Rabu, 02 Mei 2012

REPEAT BREEDER


Definisi kawin berulang adalah induk hewan atau ternak yang mempunyai siklus birahi yang normal dan gejala birahi yang jelas, tetapi bila dikawinkan dengan pejantan yang subur atau di inseminasi buatan dengan air mani yang bermutu tinggi berulang - ulang tidak pernah menjadi bunting.

Kejadian kawin berulang lebih sering terjadi pada perkawinan dengan inseminasi buatan daripada perkawinan alam.

Pada induk yang berumur tua dan telah beberapa kali melahirkan lebih sering mengalami kawin berulang daripada induk yang lebih muda, karena kondisi alat reproduksi menurun akibat pengaruh kelenjar hipofisa anterior yang berperan terhadap fungsional alat reproduksi sudah menurun. Pada hewan betina yang masih terlau muda juga sering terjadi kawin berulang dikarenakan organ reproduksi belum mampu sepenuhnya untuk menerima embrio sehingga proses implantasi terganggu, hal ini tentu dipengaruhi kelenjar hipofisa anterior yang belum berfungsi maksimal sehingga LTH belum dapat di sekresi dalam kadar yang cukup.

Secara umum kawin berulang dapat disembarking oleh dua factor utama yaitu :

A. Kegagalan Pembuahan.
Faktor ini merupakan faktor utama sebagai penyebab induk menderita kawin berulang.

Termasuk dalam faktor ini adalah :

1. Kelainan anatomi saluran reproduksi.
Kelainan anatomi dapat bersifat genetik maupun nongenetik yang mudah dideteksi hingga sulit didiagnosa, meliputi :
  • Tersumbatnya tuba falopii
  • Adanya adhesio antara ovarium dengan bursa ovarium
  • Lingkungan dalam uterus yang kurang serasi
  • Fungsi yang menurun dari saluran reproduksi
2. Kelainan ovulasi.
Termasuk dalam kelompok kawin berulang karena kelainan ovulasi adalah :
  • Kegagalan ovulasi pada folikel de graaf yang sudah matang gagal menjadi pecah karena ada gangguan sekresi hormon gonadotropin yaitu FSH dan LH.
  • Ovulasi yang tertunda ( delayed ovulation ) sampai satu atau dua hari setelah berhentinya birahi ( kondisi normal ovulasi terjadi pada periode awal masa birahi atau sampai beberapa jam setelah berakhirnya gejala birahi ).
  • Ovulasi ganda adalah ovulasi dengan dua atau lebih sel telur.
3. Sel telur yang abnormal.
Beberapa bentuk abnormal dari sel telur adalah :
  • Degenerasi sel telur dengan bentuk tidak beraturan dan dinding mengkerut.
  • Zona pelusida sobek atau rusak menyebabkan pembuahan lebih dari satu sel mani terhadap sel telur sehingga terbentuk zigot abnormal.
  • Sel telur yang muda
  • Sel telur yang berbentuk pipih
  • Sel telur yang berbentuk oval
  • Sel telur yang ukurannya terlalu kecil ( lebih kecil dari 120 mikron ).
  • Sel telur raksasa ( lebih dari 220 mikron )
  • Sel telur yang di dalam sitoplasma mengandung vakuola yang terlalu besar.
  • Sel telur dengan benda kutub ( polar body ) yang terlalu besar.
4. Sel mani yang abnormal.
Sel mani yang mempunyai bentuk abnormal menyebabkan kehilangan kemampuan untuk membuahi sel telur di dalam tuba falopii.

5. Kesalahan pengelolahan reproduksi.
  • Kurang teliti dalam deteksi birahi
  • Pelaksanaan teknik inseminasi buatan yang kurang baik
  • Kekurangan pakan pada induk khususnya vitamin dan mineral
  • Kesalahan dalam memperlakukan air mani, seperti pengenceran air mani yang kurang tepat, proses thawing mani beku yang kurang baik.
  • Suhu kandang yang terlalu panas dan kelembaban yang terlalu tinggi karena sistem perkandangan yang tidak sesuai dapat berpengaruh buruk pada proses pembuahan.
B. Kematian Embrio Dini.
Faktor yang mendorong terjadinya kematian embrio dini yang menyebabkan induk menderita kawin berulang adalah :

1. Kelainan genetik.
Adanya gen lethal yang melekat pada sel telur menyebabkan embrio yang terbentuk akan segera mati.

2. Penyakit.
Peradangan pada uterus, penyakit kelamin menular dan penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri nonspecific seperti Staphylococcus, Streptococcus, E.coli, P.aeroginosa, dan C. piogenes dapat menyebabkan kematian embrio dini dan kawin berulang.

3. Lingkungan dalam saluran reproduksi yang kurang serasi.
  • Faktor penyakit umum pada induk yang menimbulkan peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan kematian embrio, karena lingkungan uterus tempat embrio berada juga mengalami kenaikan suhu sehingga terjadi kekurangan oxygen.
  • Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesterone sering menyebabkan kematian embrio dini. Hormon estrogen yang berlebihan kadarnya dalam darah pada awal kebuntingan dapat menyebabkan terjadinya kontraksi dinding uterus yang berlebihan akan diikuti kematian embrio dini. Kekurangan sekresi hormon progesterone disebabkan adanya regresi korpus luteum pada awal kebuntingan juga mengakibatkan kematian embrio dini.
Diagnosa kawin berulang pada ternak betina adalah :
  1. Pemeriksaan klinis pada alat kelamin betina melalui eksplorasi rektal untuk mengetahui kondisi organ reproduksi atau menggunakan endoskop pada alat kelamin.
  2. Pemeriksaan pada biopsi cairan uterus dan vagina untuk mengetahui populasi dan variasi mikroorganisme.
  3. Pemeriksaan hormon gonadotropin dan steroid memakai teknik Radio Immunoassay ( RIA ).
  4. Pemeriksaan sitologi untuk mendeteksi kelainan genetik.
  5. Laparotomi untuk melihat kelainan abnormal alat kelamin.
Penanggulangan pada induk yang menderita kawin berulang bertujuan untuk meningkatkan angka kebuntingan, sehingga angka kelahiran meningkat dan efisiensi reproduksi menjadi baik.

Penanggulangan kawin berulang meliputi :
  1. Pemberian antibiotika sesuai bakteri penyebab secara intrauterine menjelang birahi pada siklus birahi berikutnya.
  2. Pemberian Gonadotropin Releasing Hormon ( GnRH ) pada saat inseminasi.
  3. Perbaikan pengelolahan reproduksi seperti peningkatan kualitas deteksi birahi dan pelaksanaan inseminasi buatan, perbaikan mutu ransum pakan, sanitasi kandang dan lingkungan.

0 komentar:

Posting Komentar